<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d16404634\x26blogName\x3dAsosiasi+Logistik+Indonesia\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://logistik.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://logistik.blogspot.com/\x26vt\x3d1864876647415419858', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Monday, October 10, 2005

[ALI] Re: [SCM] Persaingan antar Group Supply Chain di Jepang (Keiretsu)

Dear pak Syarwani,

Aku agak bingung cari korelasi article yg pak Syarwani attached dng
practise dari supply chain. Apalagi dgn statement sbb

> Jika di jepang  zaibatsu (financial cliques) melahirkan keiretsu
(corporate
> groups), (baca juga tulisan di bawah) sebenar konsep tersebut adalah
> aplikasi real dari konsep Supply Chain Management (SCM) yang memang
> menjadikan group bisnis seperti Toyota, Honda, Hitachi, Sony, Panasonic
> menjadi kekuatan dan raksasa bisnis dunia.


yg aku baca sebenarnya mengapa mereka (perusahaan Jepang) melakukan
vertical integrasi. Yg kutanggap ialah mengamankan bisnisnya. Tapi,
apakah ini realisistis untuk mayoritas perusahaan? Rasanya sulit,
karena harus punya resources yg banyak sekali; dan terutama hampir
mustahil dilakukan dalam ekonomi yg global ini.

Setengah tahun lalu, aku baca sejarah ttg. perdagangan di jaman
medieval. Disitu ada dua rumpun pedagang, yaitu pedagang dari Genoa,
dan pedagang dari Magribe. Di awal dua2nya sukses; dan relied on
personal exchange (mungkin seperti yg terjadi di model tradional &
keiretsu). Tapi, dgn makin besarnya skala perdagangan sampai
COnstantinopel, mereka terpaksa berurusan dgn orang dari luar negeri
yg mereka ngak kenal. Apa yg terjadi ialah, pola mereka berdagang
menjadi berubah. Genoa mulai jadi modern (agak panjang ceritanya),
tapi Magreb tetap model personal. Akhirnya Magreb keteteran.. dan
menghilang dari percaturan business saat itu.

Aku belon liat data ttg. business Jepang saat ini, tapi rasanya
industri mereka sekarang lagi sulit. Dan mereka mulai berubah (kalau
ngak salah bos Sony pun kini orang Amerika).

Game theory mungkin memperjelas bahwa orang mau bercooperation jika
para pemain terus main, permainan (baca:exchange yg terjadi) never
end, dan interaksi terjadi dalam jumlah sedikit. Ini yg memperjelas
kenapa kereitsu Jepang terjadi, dan efektif di masa lalu.


Pertanyaannya kini ialah bagaimana kita bisa berkolaborasi horizontal.
Lebih spesifik lagi pertanyaan dalam kondisi bagaimana kolaborasi
horizontal itu bisa tercipta?


Cheers
Enda D. Layuk Allo






Asosiasi Logistik Indonesia [ALI]: "turut meningkatkan kualitas SDM Indonesia di bidang profesi logistik dan sebagai wadah komunikasi industri logistik di Indonesia" www.ali.web.id

"Friends of ALI are: Cipta Mapan Logistics"




YAHOO! GROUPS LINKS




Google